Menguak Kisah Romansa Rivalitas Liverpool dan AC Milan

Diposting pada

Menguak Kisah Romansa Rivalitas Liverpool dan AC Milan – Liverpool akhirnya memastikan diri menjadi juara Premier League 2019/2020. Kepastian ini di dapat setelah dan sehari kemudian, rival mereka di perburuan trofi Premier League/Liga Inggris, Manchester City kalah 2-1 ketika bertandang ke Chelsea. Penantian trofi Liga Inggris selama 30 tahun akhirnya selesai sudah. Liverpool berhasil mendapatkan trofi Liga Inggris-nya yang ke-19. Suka cita dan euforia Liverpool serta pendukungnya terjadi dimana-mana. Tak hanya di Inggris sana, tapi juga seluruh dunia, dan jagat media sosial tentunya.

Menguak Kisah Romansa Rivalitas Liverpool dan AC Milan

Menguak Kisah Romansa Rivalitas Liverpool dan AC Milan

Jika kita membahas keberhasilan Liverpool merengkuh trofi Liga Inggris tentu tak ada akhirnya. Hampir semua data dan fakta sudah di bahas. Banyak kompasianer juga yang telah menuliskan kisah inspiratif Liverpool musim ini.

Jadi, tak akan ada habisnya jika terus menguak fakta-fakta Liverpool, apalagi Liga Inggris masih tersisa 7 laga, masih mungkin ada drama lanjutan. Namun bagi saya, seorang fans yang dulu pernah dibuat sakit hati oleh Liverpool lewat tragedi Istanbul, melihat The Reds juara ada perasaan lega sekaligus iri. Sama-sama punya seragam merah, Liverpool dan AC Milan punya banyak kemiripan. Kedua tim juga sama-sama punya catatan historis yang panjang. Soal prestasi, keduanya juga salah satu tim paling sukses di dunia.

Baik Liverpool ataupun AC Milan merupakan pengoleksi gelar Liga Champions terbanyak di negaranya masing-masing. Liverpool punya 6 trofi Liga Champions, terbanyak di Inggris. Sementara di Italia belum ada tim yang mampu mengejar koleksi 7 trofi Liga Champions milik AC Milan.

Kedua tim sejatinya juga punya rivalitas yang sengit. Di luar klub Inggris, Real Madrid dan AC Milan adalah rival berat The Reds. Rivalitas mereka tentunya berasal dari persaingan di kancah Liga Champions. Dan yang paling diingat seluruh pecinta sepak bola tentu saja duel Liverpool dan AC Milan di final Liga Champions 2005 dan 2007.

Kilas balik Tragedi Istanbul Dan Misi Sukses Balas Dendam AC Milan

Awal rivalitas kedua tim di era sepak bola modern terjadi pada tahun 2005. Liverpool dan AC Milan bertemu di final Liga Champions yang bertempat di Ataturk Stadium, Istanbul, Turki. Kala itu Milan jauh lebih diunggulkan dari Liverpool. AC Milan datang ke final keduanya dalam kurun waktu 3 tahun. Ini membuktikan betapa mereka masih sangat dominan di eropa kala itu. Selain itu, skuat Milan 2005 disebut-sebut sebagai salah satu skuat paling mematikan di masanya.

Sementara Liverpool baru menginjakkan kakinya di final Liga Champions setelah 20 tahun absen. Namun siapa sangka, skuat The Reds yang tak diunggulkan itu justru keluar sebagai juara. Malam itu, Rossoneri seperti diajari soal spirit “You’ll Never Walk Alone” milik The Reds.

Keunggulan 3-0 Milan di babak pertama berhasil disamakan di babak kedua oleh Liverpool dalam waktu kurang dari 10 menit. Semuanya buyar oleh semangat pemain The Reds yang dibakar oleh nyanyian pendukungnya di tribun. Laga akhirnya masuk ke babak penalti, Jerzy Dudek jadi pahlawan Liverpool dengan menepis 2 tendangan Milan. Akhirnya Liverpool mendapat trofi Liga Champions kelimanya dan kisah malam itu dikenal sebagai “Miracle of Istanbul”, salah satu final terbaik dalam turnamen.

Sama-sama kesulitan finansial namun beda nasib

Selepas dua final Liga Champions bersejarah itu, kedua tim menjalin sebuah romansa rivalitas. Keduanya sama-sama ketagihan untuk bisa kembali bertemu di laga Liga Champions berikutnya. Namun sekali lagi, takdir punya jalannya sendiri. Finansial Milan yang sudah buruk semakin parah. Silvio Berlusconi sudah tak sekuat dulu, Milan terlilit banyak utang. Selepas final 2007, prestasi terbaik Milan di Liga Champions hanya sampai babak 16 besar sebelum akhirnya absen dari Liga Champions sejak 2014.

Milan akhirnya berganti kepemilikan ke pengusaha China pada 2017. Apesnya, setahun berselang kepemilikan Milan berpindah lagi ke tangan Elliott Management Corporation setelah pemilik sebelumnya ternyata punya utang ke perusahaan investasi asal Amerika itu.

Akhir era perundungan dan pesan Liverpool kepada Milan
Baik Liverpool maupun AC Milan punya kemiripan lain selain prestasi, yaitu kedua klub punya banyak haters. Hal ini tak lepas dari prestasi dan loyalitas pendukungnya. Namun kisah berbeda telah dicatat The Reds.

Liverpool akhirnya mengakhiri era perundungannya sementara sang rival AC Milan masih terus terpuruk dan dibully haters. Sebagai milanisti, penulis masih ingat ketika era 2010an Milan masih menjadi kekuatan besar di Italia dan eropa. Milan masih rutin berkompetisi di Liga Champions sementara Liverpool tergusur ke Liga Europa.

Banyak milanisti yang mendoakan kopites agar klubnya bisa kembali ke Liga Champions dan kembali menjalin rivalitas di atas lapangan. Sekian tahun berlalu, kini justru milanisti yang terpuruk melihat kondisi Milan yang kesulitan dan dilain pihak Liverpool tengah bergembira.

Apa yang terjadi pada Liverpool dan pendukungnya harusnya jadi pelecut semangat bagi Milan dan seluruh pendukungnya di seluruh dunia. Tak ada kata instan dalam sepak bola. Liverpool bisa seperti sekarang karena buah dari kesabaran dalam membangun klub.

Kopites, pendukung Liverpool juga membuktikan kesetiaan serta loyalitas mereka walaupun klub didera berbagai masalah dan ejekan. Mereka tak pergi meninggalkan tambatan hatinya sekalipun dalam kondisi paling menyedihkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *