Federico Bernardeschi Tampaknya Dia Tahu Semua Orang

Diposting pada

Federico Bernardeschi Tampaknya Dia Tahu Semua Orang – Untuk tulisan mengenai Juventus, saya sampaikan kembali bahwa tulisan ini bersifat subjektif dari sudut pandang saya sebagai bagian dari Bianconeri. Alhamdulillah, akhirnya yang dicita-citakan selama musim yang berat ini tercapai. Jatuh bangun sejak awal musim, kemenangan tidak selancar musim-musim sebelumnya. Selamat untuk Bianconeri sedunia, selamat Bapak Maurizio Sarri beserta tim dan tentunya para pemain.

Federico Bernardeschi Tampaknya Dia Tahu Semua Orang

Federico Bernardeschi Tampaknya Dia Tahu Semua Orang

Ingin rasanya saya peluk satu-satu, atas ketidakputusasaan di musim yang berat ini, sayangnya mereka jauh kalau pun dekat harus physical distancing. Untuk semua, siapa pun; yang cedera, yang di bangku cadangan, yang tidak bisa ikutan main di lapangan, yang cuma bisa ikut live instagram, yang jarang bikin gol, yang rela tidak egois demi memberi umpan, yang sudah menjaga gawang, yang pernah terkena kartu serta suspen, semuanya selamaatt.

Khusus kepada bapak pelatih, beliau benar-benar memotivasi saya bahwa tidak ada sukses yang terlambat. Di usia 61 tahun dia akhirnya memeroleh Scudetto pertamanya. Kritikan pasti datang dari mana saja, manajemen dan pastinya fans. Rasanya saya bersyukur untuk menahan tidak mengkritik beliau, karena ini masih musim pertama dia beradaptasi dengan tim, tidak mudah pastinya untuk bisa mengungguli pelatih sebelumnya. Tapi saya yakin beliau dan anak-anak pasti punya kepercayaan satu sama lain bahwa mereka bisa meraih kemenangan.

Kepercayaan dan mental juara dalam setiap individu dalam tim tidak pernah saya ragukan, namun bagi Bapak Sarri bergabung di Turin untuk obsesi Scudetto pastinya hal baru dan motivasi terbesar yang ekspresinya terkadang disimpan baik-baik sama beliau. Paragraf emosional mengenai Bapak Sarri ini terinspirasi dari foto-foto beliau saat menangis haru melihat tim nya meraih kemenangan. Seperti saat beliau menjadi pelatih Chelsea, hal yang membuat saya, dan saya yakin banyak orang tersentuh melihat ekspresi beliau saat memegang medali kemenangan Chelsea.

Kali ini gambar beliau mengusap air mata di bench juga meluluhkan hati

Dalam hati kecilnya, beliau pasti tidak percaya kalau dia bisa berhasil. Selanjutnya, adalah sang pencipta gol di pertandingan penentu kemarin malam. Sebagai luapan di masa bahagia ini saya akhirnya sempatkan menulis sedikit mengenai Cristiano (tentu saja dari sudut pandang saya). Sejujurnya, dia bukan favorit saya meski dia adalah favorit semua orang. Sejak rumor bahwa dia akan datang ke Turin 2 tahun lalu, saya adalah salah satu yang paling tidak mempercayai berita tersebut.

Sempat berpikir, ‘What the reason that bring him here?’ selain gaji pastinya. Jujur saya sempat sinis di awal musim dia bergabung. Saya tahu dia pernah mengalami hambatan beradaptasi dengan situasi Serie A yang berbeda dengan Inggris dan Spanyol. Tapi, bukan Ronaldo namanya kalau dia tidak dapat mengatasi kendala tersebut. Saya juga memahami, adanya Ronaldo menjadi motivasi teman-temannya di tim untuk bisa beradaptasi dengan pemain paling tajam di Eropa tersebut, begitu pun sebaliknya.

Ronaldo tampak berusaha untuk bisa bermain bersama tim, saya akui secara umum dia tidak egois dalam penguasaan bola. Terima kasih Cristiano. Federico Bernardeschi. Tampaknya dia tahu semua orang kesal dengan dirinya, bisa jadi dia pun kesal dengan dirinya sendiri. Wajar saja, namanya juga persaingan. Tidak banyak yang akan saya tulis mengenai Berna. Ada yang bilang, tahun ini memang aneh, bahkan Berna akhirnya mencetak gol.

Musim depan juga nampaknya belum tentu dia masih bertahan di klub, tapi bagaimanapun nanti saya tetap bersyukur dia memberikan akhir yang manis di pertandingan terakhir tersebut. Terima kasih Berna. Terima kasih Higuain, Dybala, Tek, GIgi, Matthijs, Sandro, Pjanic, Cuadrado, Rabiot, Matuidi, Danilo, Chiellini, Merih, Leo dan semuanya. Sekali lagi selamat yaa. Oh, tentunya untuk Mas Emil Mulyadi, sang kiper Sampdoria yang kita banggakan sebagai produk Indonesia dan hasil didikan Juventus juga. Terima kasih Emil, semoga kamu bisa menjadi Buffon di masa depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *