Tolak Pemain Titipan di Timnas Indonesia

Diposting pada

Tolak Pemain Titipan di Timnas Indonesia – Negeri ini sering ditiup isu soal titipan. Ada siswa titipan, ada pegawai titipan, ada mahasiswa titipan, ada juga pemain sepak bola titipan. Titipan yang dimaksud dalam hal ini adalah titipan dengan kesan negatif. Sederhananya, orang tak tak terkualifikasi bisa dititipkan di kelompok yang dituju.

Tolak Pemain Titipan di Timnas Indonesia

Tolak Pemain Titipan di Timnas Indonesia

Misalnya, siswa yang sebenarnya tak memiliki kualifikasi, bisa masuk ke sekolah tertentu karena koneksi maka disebut siswa titipan. Pegawai yang tak kompeten bisa masuk organisasi kerja karena memiliki koneksi biasanya disebut pegawai titipan. Dalam sepak bola, pemain yang tak memiliki kualifikasi bisa masuk ke tim tertentu karena koneksi maka biasanya disebut pemain titipan.

Nah, fenomena titipan memang sulit untuk dibuktikan. Sebab, biasanya sudah terbungkus rapi. Tapi, baunya bisa tercium. Nah, fenomena ini bisa terjadi di sepak bola. Pemain titipan bisa masuk karena dia punya koneksi dengan pihak tertentu di tim. Pihak tertentun itu jelasnya memiliki pengaruh lebih besar dari seorang pelatih. Imbasnya jika ada pemain titipan, apalagi banyak, pelatih tak berkutik untuk memainkan pola yang diinginkan. Ini tentu merugikan.

Niatnya tentu agar bisa masuk timnas Indonesia. Seperti diberitakan bolasport, Iriawan pun menolaknya. Dia mengatakan bahwa pemilihan pemain menjadi kewenangan pelatih sepenuhnya. Untuk timnas senior dan U-19, Shin Tae-yong lah yang memiliki kewenangan. Sementara untuk U-16 menjadi kewenangan Bima Sakti.

Ketua Umum PSSI Mochamad Iriawan pun mengakui ada pemain keturunan yang mengontak dirinya

Apa yang diungkapkan Iriawan adalah indikasi bahwa usaha agar pemain titipan itu masuk timnas memang ada. Nah, tentu usaha-usaha seperti itu harus ditolak. Jangan ada pemain titipan di timnas. Dalam konteks titip menitip pemain ini, keberadaan pelatih keras kepala memang diperlukan. Pelatih keras kepala tentu akan menolak upaya untuk mengintervensi dirinya. Saya pikir Shin Tae-yong adalah pelatih keras kepala seperti umumnya pelatih kelas dunia.

Nah, Bima Sakti yang masih “baru” sebagai pelatih, saya pikir punya pengalaman penting bersama Luis Milla. Saat Milla menjadi pelatih timnas Indonesia, Bima adalah salah satu asistennya. Jika melihat gelagat Milla, maka dia pun adalah pelatih keras kepala. Bima tentu bisa belajar dari Milla dan bisa keras kepala untuk urusan pemilihan pemain. Artinya memilih pemain sesuai dengan pola yang dia inginkan demi kebutuhan tim.

Selain pelatih, manajemen di level timnas dan federasi sudah saatnya tak terlalu ikut campur dalam menentukan pemain. Manajemen mengurusi hal-hal organisasi saja tanpa masuk mengintervensi pilihan pemain oleh pelatih. Saya merasa sangat yakin jika pemain titipan ditolak secara terus menerus dan tersistem, maka tak akan lagi ada pemain titipan.

Saya pun yakin jika pelatih timnas diberi keleluasaan dan waktu yang cukup, maka timnas akan bisa berprestasi. Jangan beri waktu singkat pada pelatih. Jangan hanya karena gagal untuk satu ajang, langsung dicopot. Timnas membutuhkan pelatih dengan waktu kinerja yang cukup dan terukur. Semoga timnas Indonesia di segala level bisa berprestasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *